trustnews.id

Terobosan Baru Waskita Karya JAGA EKSISTENSI KEUANGAN
Destiawan Soewardjono Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero), Tbk

Virus Corona yang masuk di Indonesia pada Maret 2020, membuat banyak orang ketakutan dan shock, terutama bagi mereka yang para pelaku bisnis di tanah air. Banyak karyawan yang terpapar, sehingga sejumlah proyek yang sudah dipetakan dengan baik, tidak dapat berjalan secara maksimal sesuai harapan.

Selain itu, pemerintah juga memberlakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), yang tujuannya membendung membendung laju kenaikan angka positif virus corona atau Covid-19, geliat perusahan-perusahan bisnis menjadi semakin lemah. Karena ruang lingkupnya menjadi sangat terbatas, bahkan ada yang gulung tikar.

Awalnya, PPKM diberlakukan di wilayah Jawa dan Bali. Kemudian PPKM Darurat diperluas ke 15 daerah di luar Jawa-Bali, meliputi kabupaten kota di sejumlah provinsi. Terdiri dari Kota Tanjung Pinang dan Batam (Kepulauan Riau), Kota Singkawang dan Pontianak (Kalimantan Barat), Kota Padang Panjang dan Bukittinggi (Sumatera Barat). Lalu, Kota Bandar Lampung (Lampung), Kota Manokwari dan Sorong (Papua Barat), Kota Bontang, Balikpapan, Kabupaten Berau (Kalimantan Timur), Kota Padang (Sumatera Barat), Mataram (NTB), dan Kota Medan (Sumatera Utara).

Dengan pemberlakuan yang meluas waktu itu, membuat mayoritas pelaku usaha, termasuk perusahaan BUMN PT Waskita Karya (Persero), Tbk juga harus mengatur proses bisnis dan abilitas mereka, terutama dalam pengerjaan proyek di lapangan. Maklum, sebagai perusahaan konstruksi ujung tombak dari nafas bisnisnya ada pada semua kegiatan proyek yang tengah dikerjakannya. Meleset saja dari waktu yang telah ditetapkan, tentu memiliki dampak atau imbas luar biasa bagi perusahaan.

Dampak dari Covid ini memang luar biasa besar. Aktivitas Waskita Karya sempat merosot tajam. Awalnya, aktivitas di lapangan hanya berjalan 25%. Setelah memahami dan melakukan perbaikan bisa naik di angka 50%, tapi untuk sampai di angka 100%, sampai sekarang belum bisa direalisasikan, karena situasi pandemi ini terus berkembang. Padahal di akhir 2021 Waskita optimis kalau aktivitas mereka di lapangan bisa ditingkatkan.

Di tahun 2022, perusahaan milik negara yang berdiri sejak 1 Januari 1961 tersebut mulai menata bisnisnya lebih baik lagi, terutama untuk tetap bisa eksis di era pandemi. Waskita mengalami penurunan, dengan investasi yang besar di jalan tol yang awalnya ada 9 ruas dengan panjang 1083 km dalam waktu 5-7 tahun ini.

Tentunya dinamika ini menjadi beban moril yang sangat berat. Bahkan, akibat dari pandemi ini Waskita memiliki beban utang sekitar Rp 90 triliun. Beban hutang ini sebagian besar digunakan sebagai kredit investasi dan sebagian lagi digunakan sebagai modal kerja serta equity.

“Dengan kondisi yang seperti itu, Waskita Karya perlu melakukan upaya terobosan untuk perbaikan. Ada 8 langkah strategi untuk mengatur keuangan kami agar eksistensi bisnis tetap bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan yang kita harapkan bersama,” ungkap Direktur Utama PT Waskita Karya (Persero), Tbk, Destiawan Soewardjono kepada Trustnews.

Delapan strategi bisnis ini, lanjut Destiawan di antaranya, penjaminan pemerintah untuk modal kerja dan refinancing obligasi, serta melakukan restrukturisasi dengan para kreditur.

“Ini semua sudah terlaksana, divestasi kami juga sudah mempunyai progres, sampai triwulan III sudah empat ruas tol. Kemudian kami melakukan transformasi baik itu transformasi bisnis, kemudian internal, bagaimana manajemen melakukan perubahan dna kontrol manajemen menjadi lebih baik, kemudian penanganan ruas-ruas tol yang diperlukan penanganan khusus,” katanya.

Belum lama ini, Waskita Karya juga telah melakukan penandatanganan terkait penjaminan modal kerja sebesar Rp 8 triliun. Himbara dan beberapa kreditur swasta akan mendapatkan jaminan dari pemerintah pada saat memberikan pinjaman kepada Waskita. Kemudian, untuk obligasi yang jatuh tempo juga akan terselesaikan. Waskita juga tengah menunggu Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2022.

Selain itu, dukungan permodalan juga datang dari rencana menggelar penambahan modal dengan Hak Memesan Efek
Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue pada tahun ini sebesar Rp. 1,54 Triliun. Sebelumnya, pada akhir Desember lalu Waskita telah mene-rima dana PMN sebesar Rp. 7,9 Triliun.

“Sampai kuartal III, dengan delapan strategi ini, alhamdulillah kondisi keuangan Waskita sudah menunjukkan tren positif. Jadi sudah mulai membalik kondisi tahun yang lalu. Mudah-mudahan ini bisa kami pertahankan sampai akhir 2021, sehingga performa Waskita bisa kembali normal, meskipun dalam program restrukturisasi ini kami memerlukan waktu sampai 2025. Tetapi kami optimistis sebelum 2025 Waskita sudah kembali sehat dan mulai berbisnis normal dan menjadi company terbaik,” kata Destiawan. (TN)