trustnews.id

Polbangtan Medan Kenalkan Pertanian Modern Sejak Dini
Dok, Istimewa

TRUSTNEWS.ID,. - Sebagai negara agraris, Indonesia tengah menghadapi masalah seriua terkait terus menurunnya jumlah petani. Berdasarkan data Sakernas BPS 2021, petani Indonesia berjumlah 38,77 juta jiwa. Dari total petani itu adalah petani generasi X sebanyak 38,02 persen diikuti generasi baby boomers sebanyak 34,41 persen.

Sedangkan generasi milenial (lahir 1981-1996) hanya berjumlah 21,93 persen, dan generasi Z yang lahir di rentang 1997-2008 hanya 2,24 persen. Gabungan petani generasi baby boomers dan generasi X, tentu memberikan sosok petani berusia tua, berpendidikan rendah ean memiliki lahan rata-rata di bawah setengah hektar. Sehingga bisa di kategorikan petani yang tidak ada inovasi dan gaptek (gagap teknologi).

Bahkan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memperkirakan pada tahun 2063 profesi petani akan punah. Hal ini seiring dengan turunnya pekerja di sektor pertanian.

Asumsi hitungannya, pada tahun 1976 proporsi pekerja Indonesia di sektor pertanian mencapai 65,8 persen. Namun, di 2019 turun signifikan menjadi hanya 28 persen. Penurunan jumlah pekerja di sektor pertanian sejalan dengan semakin berkurangnya lahan pertanian. Pada 2013 lahan pertanian mencapai 7,75 juta hektar namun di 2019 turun menjadi 7,45 juta hektar.

Fenomena menurunnya jumlah petani, dalam pandangan Yuliana Kansrini selaku Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan, tidak saja terjadi di Indonesia. Tapi juga dialami banyak negara di dunia. Alasannya klise, lajunya konversi lahan pertanian ke non pertanian.

“Saat ini tidak hanya di Indonesia seluruh dunia menghadapi krisis petani, setiap tahun jumlah SDM pelaku pertanian semakin berkurang, sementara disatu sisi, kebutuhan akan pangan tetap dibutuhkan selama manusia masih hidup. Sementara dibenak generasi milenial pekerjaan di bidang pertanian bukan hal yang menarik dan tidak menjanjikan,” ujar Yuliana Kansrini kepada TrustNews.

Baginya, regenerasi petani menjadi suatu keharusan yang tak bisa ditawar lagi. Ini mengingat, Indonesia tahun 2030 akan menghadapi bonus demograf.

“Polbangtan Medan sebagai pendidikan vokasi berupaya untuk membuka mindset para lulusan selevel SLTA untuk tertarik kuliah di Polbangtan Medan. Dengan melakukan promosi bahwa masa depan mereka akan lebih menjanjikan ketika mereka melanjutkan pendidikan Polbangtan Medan,” ucapnya.

Tak cukup hanya mempromosikan soal masa depan yang lebih baik, diteruskannya, Polbangtan Medan juga memberikan informasi keberhasilan dari lulusan yang sudah bekerja di beberapa lembaga pemerintah Perusahaan swasta, BUMN, maupun yang menjadi Wirausaha muda pertanian.

“Selain Institusi, mahasiswa juga ikut serta pada saat penerimaan mahasiswa baru dengan memberikan sosialisasi di sekolah-sekolah tempat asal mereka yang tujuannya menarik minat para juniornya untuk mendaftar di Polbangtan Medan,” jelasnya.

Ragam upaya Ini dilakukan, menurutnya, untuk meningkatkan minat pada pertanian bagi petani milenial, harus dilakukan sejak dini. Tidak hanya pada tingkat SLTA, namun sudah dimulai dari tingkat Pendidikan TK.

“Beberapa TK/PAUD di sekitar Polbangtan Medan juga melakukan kunjungan ke kampus belajar hidroponik sayuran seperti pokcai, sawi, tomat, dan melakukan panen. Melalui unit TEFA (Teaching Farm/Factory) mengajak para generasi muda untuk mencintai pertanian. Pengenalan smart farming kepada mereka untuk mengubah pandangan bahwa petani tidak melulu penuh lumpur dan tradisional menjadi petani yang kekinian, mengikuti perkembangan IT dan memanfaatkan artificial intelegence” urainya.

“Salah satu unit TEFA di Polbangtan Medan yaitu Miniplant Industry dan Modern Nursery Kopi menjadi role model dalam mendidik generasi milenial untuk berkecimpung dibidang pertanian, khususnya komoditas kopi. Proses dari hulu hingga hilir mengenai kopi dan peluang usaha yang ada didalamnya diajarkan melalui TEFA tersebut. Fasilitator memberikan penekanan bahwa komoditas tersebut dapat menghasilkan uang sehingga mereka termotivasi untuk menentukan jalan hidupnya di sektor pertanian “ tambahnya.

Strategi lain yang dilakukan Polbangtan Medan yakni mensiasati keterbatasan dana sehingga kuota untuk generasi milineal juga terbatas. Strategi yang dilakukan adalah bekerjasama dengan pihak lain sebagai penyandang dana, sehingga kuota untuk menambah mahasiswa yang belajar pertanian juga meningkat.

“Tahun ini Polbangtan Medan bekerjasama dengan Badan Pengelola Dana Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk mendidik SDM sebanyak 59 orang, diharapkan tahun depan jumlah ini dapat ditingkatkan,” ungkapnya.

“Ini belum termasuk pelatihan dan pendampingan bagi kelompok pemuda di sekitar kampus yang tergabung dalam Kelompok Tani Paya Geli Berkah pembuatan POC dan pondok pesantren dalam program Kelompok Santri Tani Milenial,” pungkasnya.