trustnews.id

Transisi Bauran Energi Dorong PLTA-PLTMH 2040
Dok, Istimewa

Transisi Bauran Energi Dorong PLTA-PLTMH 2040

NASIONAL Sabtu, 12 Agustus 2023 - 16:37 WIB Hasan

TRUSTNEWS.ID,. - Sebagai negara yang dialiri ratusan sungai, Indonesia punya potensi tersembunyi yang tersebar di seluruh Nusantara.

Potensi tersebut adalah debit aliran sungai sebagai sumber energi baru terbarukan (EBT) dengan terus tumbuhnya permintaan listrik nasional. Pada saat yang bersamaan, Indonesia secara geografis memiliki ribuan pulau yang terpisah oleh laut dan selat yang menyebabkan persebaran penduduk tidak merata. Kondisi ini membutuhkan jaringan interkoneksi dari beberapa pembangkit listrik seperti PLTD, PLTU, PLTA, PLTP, PLTS.dan PLTM/PLTMH.

Zulfan Zahar, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Pembangkit Listrik Tenaga Air (APPLTA), mengatakan, Tingginya kebutuhan supply listrik hingga tahun 2040 maka sudah saatnya prioritaskan pembangunan pembangkit listrik energi terbarukan seperti PLTA/PLTM di Indonesia.

Indonesia mempunyai potensi tenaga air sebesar 75 GW yang Sebagian besar tersebar di Sumatra, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Potensi tersebut kemudian diseleksi melalui studi environmental and social screening oleh PT PLN (Persero) yang menyatakan bahwa dari 75 GW hanya 26,3 GW yang berpotensi akan dikembangkan.

“Dalam RUPTL2021-2030. PLN telah berencana untuk menambah kapasitas terpasang PLTA sebesar 10 GW dan 1,11 GW PLTMH,” ujar Zulfan kepada TrustNews.

Baginya, pengembangan EBT di Indonesia mengalami perbaikan dari tahun ke tahun dengan adanya tambahan kuota PLTA/PLTMH dari PLN karena kebutuhan listrik di Indonesia akan meningkat di mulai dari 2029.

“Rencananya ditandai dengan perhitungan setelah 2029 Jawa, Bali dan Madura akan mengalami peningkatan konsumsi listrik dan PLTA/PLTMH mendapat porsi yang besar sebagai energy base load,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Perusahaan Listrik Negara (PLN) memproyeksikan jumlah pelanggan listrik di Indonesia akan mencapai 103,06 juta pada 2030.

Berdasarkan proyeksi tersebut, jumlah pelanggan akan meningkat 27% dari 81,07 juta pada 2021. Adapun rata-rata pertumbuhan jumlah pelanggan per tahun diproyeksikan sebesar 2,44%.

Proyeksi pelanggan listrik pada 2030 terdiri dari 92,26 juta pelanggan rumah tangga, 6,97 juta pelanggan bisnis, 3,65 juta pelanggan publik, dan 180 ribu pelanggan industri.

Berdasarkan wilayahnya, pelanggan di Jawa, Bali, dan Madura diperkirakan akan mendominasi dengan jumlah total 64,54 juta pelanggan pada 2030.

Selanjutnya pelanggan Sumatra diperkirakan sebesar 18,73 juta, Kalimantan 5,46 juta, Sulawesi 8,31 juta, serta Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara 6,02 juta.

PLN juga memperkiraan kebutuhan tenaga listrik pada 2030 dapat mencapai 390 terawatt-hours (TWh). Proyeksi ini berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030.

Hanya saja, 2030 atau 2040 bukanlah waktu yang lama dalam upaya mewujudkan kapasitas terpasang PLTA sebesar 10 GW dan 1,11 GW PLTMH. Pertimbangannya, pembangunan PLTA yang membutuhkan waktu dan adanya polemik terkait Surat edaran soal larangan pengembang listrik swasta atau independent power producer (IPP) melakukan atribut penjualan atribut Green Energy dalam bentuk Renewable Energy Certificate (REC) secara langsung ke pasar.

“Kalau opsi pastinya adalah IPP maka regulasinya harus dibuat segera karena kalau tidak, waktunya tidak akan tercapai sesuai dengan target,” ujarnya.

“Kita dari APPLTA sudah berdiskusi dengan ESDM dan PLN agar ada perubahan dalam RUPTL. Insyaallah nanti akan ada perubahannya RUPTL dan di dalam perubahannya RUPTL itu PLTA akan mendapat kuota yang cukup signifikan,” paparnya.

Adapun praktek di lapangan, menurutnya, pemerintah segera melakukan tender yang pesertanya IPP-PLTA/PLTMH sampai dengan Commercial Operation Date (COD). Keseluruhan proses ini membutuhkan waktu, mulai dari tender, penentuan pemenang tender sampai dengan COD. Apalagi tidak semua peserta tender mempunyai kekuatan yang sama baik dalam hal pembiayaan komersial maupun teknikal.

PLTA kuotanya akan mendapat kota yang terbesar besarannya berapa? mungkin sekitar 10 atau more or less kurang lebih 10 giga sampai dengan 2040 untuk itu kita juga sudah sarankan kepada PLN agar segera untuk melakukan tender-tender IPP-PLTA karena dari mulai pelaksanaan tender nanti menang tender sampai dengan COD.

Itu kan butuh waktu saya bilang juga yang saya usulkan dari asosiasi silahkan di tender seluruh kebutuhannya nanti diatur waktu COD-nya jadi kan tidak seluruh pembangkit atau IPP, pengembang mempunyai kekuatan yang sama terutama dengan hal pembiayaan komersial maupun teknikal jadi saya pikir mudah-mudahan ya 10 giga ini kalau dengan kondisi existing potensi yang ada sekarang itu semua bisa terserap dari Sumatra, Sulawesi semua bisa terserap.

“Keuntungannya untuk PLN akan punya satu kepastian supply. Misalnya tahun ini kemungkinan akan dapat supply sekian megawatt dari PLTA dan sekian tahun ke depan akan dapat supply dari PLTM/PLTMH,” pungkasnya.