trustnews.id

Kembangkan Pupuk Organik Dewa, PGN Dukung Keberlanjutan Petani Karet
Dok, Istimewa

TRUSTNEWS.ID,. - Urin kambing yang biasanya menjadi limbah dan belum dimanfaatkan, digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pupuk organick. Langkah inilah yang ditempuh PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, dalam mengedepankan peran tangungjawab sosial dan lingkungannya untuk masyarat.  

Subhoding Gas Pertamina ini hadir sebagai solusi dalam mendukung pertumbuhan dan keberlanjutan industri karet alam, terutama bagi masyarakat Desa Pagar Dewa, Sumatra Selatan. PGN mampu berperan aktif, terutama dalam memberikan kemudahan bagi masyarakat petani karet untuk bisa mendapatkan pupuk dengan harga yang terjangkau dan efektif. 

Dalam meraih pupuk dengan harga yang terjangkau tadi, PGN bermitra dengan Pengurus Koperasi Padetra Artomulyo. Jalinan kemitraan tersebut dikembangkan dengan memberikan pelatihan kepada para petani karet tentang cara membuat pupuk organik dari urin hewan ternak (kambing), yang hasilnya diberi nama Dewa Pupuk.

“Dalam implementasi program pemberdayaan petani karet, perusahaan berkolaborasi dengan masyarakat untuk mengubah masalah menjadi solusi masalah lain (problem to problem solving),” ujar Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama kepada Trustnews belum lama ini.

Berdasarkan penelitian terdahulu, urin yang dihasilkan hewan ternak merupakan produk metabolisme tubuh, yang memiliki nilai sangat menguntungkan bagi tanaman, mengandung unsur hara N dan K yang tinggi. Kedua unsur ini sangat dibutuhkan tanaman. Selain itu, urin hewan ternak mudah diserap oleh tanaman dan mengandung hormon-hormon yang mendukung pertumbuhan tanaman. Kelinci memiliki kandungan unsur hara yang lebih tinggi dibandingkan kambing dan sapi. Sayangnya, peternak kelinci di Desa Pagar Dewa tidak ada. Oleh karena itu, PGN memilih kambing yang memiliki unsur hara yang lebih baik daripada sapi.

Manfaat langsung yang dirasakan oleh para petani karet di pagar Dewa adalah kembalinya proses pemupukkan kebun karet mereka yang telah berhenti sejak tiga tahun belakang. “Pupuk yang diproduksi oleh koperasi ini menjadi angin segar bagi kami untuk kembali memupuk kebun kami yang telah lama kering oleh pupuk,” ungkap Tugiwan, salah satu petani karet yang merasakan manfaat dari produksi Dewa Pupuk. 

Sebelumnya, beberapa petani mengalami kesulitan dalam memperoleh pupuk yang terjangkau, yang berdampak pada menurunnya produktivitas pertanian mereka. Bahkan beberapa penduduk desa telah menghentikan penggunaan pupuk selama tiga tahun terakhir karena alasan biaya. 

Dewa Pupuk yang dijual dengan harga Rp 500.000,- per 20 Liter atau ukuran 1 jeriken sangat menekan biaya pemupukkan kebun karet. Jika sebelumnya untuk luas kebun karet 1 hektar, petani harus mengeluarkan uang sebesar Rp3.500.000,-. Sementara itu, dengan menggunakan Dewa Pupuk, biaya yang dikeluarkan petani hanya sebesar Rp 500.000,-.

"Kami sadar akan pentingnya karet, bagi komoditas ekspor Indonesia untuk berbagai produk seperti ban kendaraan, suku cadang otomotif, dan sebagainya. Melihat potensi besar dari kemajuan pertanian karet di Desa Pagar Dewa, program Dewa Pupuk ini sejalan dengan tanggung jawab kami terhadap lingkungan dan masyarakat setempat di wilayah operasi kami. Ini juga sebagai komitmen kami untuk meningkatkan nilai bagi seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dengan perusahaan sesuai dengan visi dan misi Perusahaan termasuk dengan petani karet lokal,” ujar Rachmat.