trustnews.id

Menggali Potensi Bisnis Porang

Menggali Potensi Bisnis Porang

NASIONAL Kamis, 19 Oktober 2023 - 13:53 WIB Hasan

TRUSTNEWS.ID,. - Tanaman porang menjadi komoditi ekspor yang bisa dipasarkan hingga berbagai negara di dunia, seperti China, Jepang, Australia, Korea, Srilanka, Pakistan, Malaysia, Selandia Baru, Italia dan Inggris. Biasanya, porang akan diekspor dalam bentuk gaplek atau tepung.

“Porang ini merupakan makanan yang digemari di China. Makanya 90% ekspor lebih banyak ke China, sedangkan sisanya ke negara-negara lain. Tapi yang diekspor ke China dalam bentuk material umbi, yang sudah dihilangkan kadar airnya saja. Untuk negara lain, seperti Jepang diekspor sudah dalam bentuk olahan, tapi jumlahnya masih sedikit karena tidak semua pabrik di Indonesia memiliki teknologi untuk bisa memenuhi permintaan Jepang dalam bentuk tersebut,” terang Elis Diah, Direktur Tri Mitra Agro kepada Trustnews belum lama ini.

Catatan Badan Karantina Pertanian menyebutkan, ekspor porang pada tahun 2018 sebanyak 254 ton, dengan nilai ekspor yang mencapai Rp11,31 miliar. Namun sayangnya, produksi porang di Indonesia masih belum mencukupi kebutuhan ekspor karena tanaman liar ini berasal dari hutan dan belum banyak dibudidayakan.

Dari sisi harga ekspor, dari tahun ke tahun mengalami penurunan dari Buyer China. Sehingga mengakibatkan pembelian raw material umbi porang juga terkena dampaknya dan ikut turun, hukum demand supplay juga berakibat turunnya harga umbi saat ini, membuat petani pesimis untuk tanam porang.

Hanya saja manfaat umbi porang ini sangat dibutuhkan oleh industri makanan, kosmetik dan farmasi di dunia. Sehingga petani harus tetap optimis bahwa porang akan tetap menjadi komoditi unggulan untuk ditanam.

Sayangnya, lanjut Elis, porang di Indonesia baru dimanfaatkan oleh pelaku UMKM. Padahal jika sudah diolah dengan baik, dijadikan tepung yang sudah diekstraksikan (dimurnikan), misalnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan campuran makanan seperti jelly, sosis, es krim hingga bahan baku kosmetik. Komoditas tepung yang diekstraksikan tadi hanya untuk kebutuhan ekspor. Untuk dalam negeri sendiri, masih banyak pengusaha atau investor yang melirik bisnis ini karena biaya yang dikeluarkan cukup besar. “Kami sudah bisa melakukannya tapi belum semaksimal seperti yang dibuat China, produk porang yang dijadikan tepung bentuknya lebih lembut ,” kata Elis.

Saat ini CV Tri Mitra Agro baru bisa mengolah umbi porang menjadi barang setengah jadi berupa chips, dan tepung glukomanan yang di exstraksi, namun masih dalam skala kecil dan kwalitasnya masih kalah dari negara China, yaitu di partikel size. “Apalagi bila kita di dukung untuk mesin dan tekhnologi untuk pengolahan umbi porang menjadi produk turunan, yang ready to use atau eat, maka demand pasar akan meningkat dan pembelian porang akan naik,” ujarnya.