trustnews.id

Toilet Sekolah Tak Lagi Bau dan Horor
Dok, Trustnews/Istimewa

Toilet Sekolah Tak Lagi Bau dan Horor

NASIONAL Sabtu, 15 Oktober 2022 - 10:17 WIB Hasan

TRUSTNEWS.ID - Gambaran umum toilet sekolah itu kotor, bau, dan jorok dan horor karena posisinya tersembunyi dan berada di bagian paling belakang dari bangunan sekolah. Mendadak sirna bila mendatangi toilet sekolah di Kabupaten Tangerang. Sekolah-sekolah di Kabupaten Tangerang justru menjadikan toilet sebagai etalase kebersihan dan kenyamanan bagi para pelajar dalam menempuh pendidikannya.

Syaifullah, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, menyatakan gagasan awalnya bagaimana mau menanamkan hidup bersih dan sehat kepada para pelajar, jika dalam kehidupan sehari-hari selama di sekolah melihat langsung kondisi toiletnya kotor, gelap dan tergenang air.

"Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar melihat kontradiksi itu, bagaimana mau menanamkan pentingnya hidup bersih tapi toiletnya horor. Pada 2013 Bupati mencanangkan Sanisek dengan mengubah keberadaan toilet yang posisinya selalu di belakang atau di pojok dipindahkan ke depan dan terang benderang," ujar Syaifullah

Dalam pandangan Bupati Tangerang, menurutnya, sanitasi merupakan hal terpenting dalam kehidupan masyarakat, tak terkecuali bagi masyarakat di lingkungan pendidikan seperti sekolah dan pondok pesantren yang diketahui bersama bahwa sekolah dan pondok pesantren merupakan tempat mendidik dan membangun karakter anak-anak sebagai generasi penerus.

"Maka itu, melalui program sanisek dan sanitren ini diharapkan akan terjadi perubahan pola hidup generasi mendatang terkait pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan yang diantaranya memiliki sekaligus merawat sanitasi," ujar Syaifullah.

Program yang menggunakan dana APBD ini, lanjutnya, sasarannya 759 Sekolah Dasar (SD) dan 91 SMP di Kabupaten Tangerang. Dari total tersebut tercatat 657 sekolah (SD-SMP) telah memiliki sanitasi sekolah atau sebanyak 86,31% sekolah memiliki sanisek.

"Program ini sempat terhenti karena pandemi 2020-2021. Anggarannya dialihkan untuk kegiatan penanganan Covid-19 dan 2022 ini programnyersenut kembali dilanjutkan," ungkapnya.

Hanya saja diakuinya, kesuksesan program sanitasi tentu disertai adanya tantangan, yaitu sarana dan prasarana lahan. Kondisi ini menyebabkan ada sekolah-sekolah yang belum tersentuh program yang tengah berjalan.

"Kendala utamanya sekitar 20 persen sarana dan prasarana lahan. Kita sudah memfasilitasi penyediaan lahan untuk sanitasi, Mudah-mudahan jika lahan sudah ada dan sudah cukup akan menjadi lebih baik sanitasinya," ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, melalui program sanitasi yang diantaranya adalah Sanitasi Sekolah (Sanisek) dan Kurangi Sampah Sekolah Kita (Kurasaki) yang digagas Bupati Ahmed Zaki Iskandar, nama Kabupaten Tangerang semakin terkenal tak hanya di pemerintah pusat, namun juga ke UNICEF (United Nations International Children's Emergency Fund).

Atas keberhasilan itu, Kabupaten Tangerang dipercaya sebagai tuan rumah City Sanitation Summit (CSS) pada September lalu. CSS merupakan ajang pertemuan kepala daerah untuk bertukar pengalaman, pengetahuan terhadap kegiatan sanitasi.

Kabupaten Tangerang selain dipandang mampu, juga kompeten karena memiliki program sanitasi yang berhasil dan dapat direplika daerah lain, seperti sanitasi sekolah, sanitasi pondok pesantren, IPAL Komunal, Gebrak Pak Kumis dan beberapa program lainnya yang tetap mengedepankan sanitasi yang baik, layak, bersih dan sehat.

Syaifullah pun menunjuk SMPN 2 Curug Kabupaten Tangerang. Sekolah ini menjadi salah satu sekolah di Kabupaten Tangerang yang dinilai sukses menjalankan program Sanisek dan Kurasaki sehingga bisa diaplikasikan di daerah lain.

Mengapa dinilai sukses, menurutnya, SMPN 2 Curug memiliki beberapa pengembangan dari program Sanisek dan Kurasaki, yakni Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM). Sebuah program bekerja sama dengan UNICEF untuk mengedukasi kesehatan dan pengelolaan menstruasi pada anak-anak.

Selain itu, sekolah ini juga menerapkan bioseptic tank. Dimana limbah toilet yang pada umumnya dikelola secara konvensional, di sekolah ini diolah dengan dimasukkan ke tangki besar dan diolah dan menghasilkan limbah yang aman bagi lingkungan.

“Limbah yang dihasilkan nantinya seperti air namun tidak berbau, tidak berwarna. Setelah keluar kita tampung di sebuah kolam, lalu dimanfaatkan untuk memelihara ikan,” ujar pungkasnya

(tn/san)